Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada Kamis (24/11/2011) pagi merosot ke posisi Rp 9.150 dipicu oleh obligasi Jerman yang memperlihatkan hasil lemah. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksika antarbank di Jakarta, bergerak turun ke posisi Rp 9.150 atau anjlok 110 poin dibanding sebelumnya Rp 9.040.
Lemahnya permintaan dalam lelang obligasi Jerman hari Rabu, memicu kekhawatiran bahwa krisis utang mulai mengancam perkonomian besar dunia," kata analis valas Monex Investido Futures, Johanes Ginting di Jakarta.
Ia mengatakan, hasil lelang itu mengindikasikan aset utama zona euro mulai kehilangan daya tarik dari investor, dikarenakan kecewa dengan tidak adanya langkah-langkah baru dari pembuat kebijakan guna mengatasi krisis utang di kawasan itu.
Ia menambahkan, semantara sebagian besar pelaku pasar berpendapat bahwa krisis yang terus berkepanjangan akan memaksa Jerman merogoh saku lebih dalam guna menyelamatkan negara-negara ekonomi kecil zona euro.
Pada hari yang sama, lanjut dia, lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga mengatakan bahwa krisis zona euro dan risiko perlambatan ekonomi mulai mengancam rating kredit AAA (triple A) Prancis. "Rupiah nampaknya masih akan terus tertekan oleh dolar AS mengingat meningkatnya risiko resesi di Eropa," kata dia.
Pengamat pasar uang Milenium Danatama Sekuritas, Abidin, menambahkan, rupiah masih dalam tren "bearish" (penurunan). Namun, pihak BI mengaku tetap akan berkomitmen menjaga nilai tukar rupiah dalam kisaran posisi aman. "Perbaikan krisis di Eropa sama sekali belum menunjukkan hasil positif, ditambah lelang obligasi Jerman yang kurang diminati investor, kondisi itu menambah kekhawatiran pasar keuangn.
Ia mengatakan, sejauh ini BI cukup sukses dalam upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melalui langkah intervensi di pasar valuta asing (valas), meski rupiah masih belum berada pada posisi stabil. Idealnya rupiah berada pada di bawah level Rp9.000 per dollar AS.
0 komentar:
Poskan Komentar